banner 468x60

Selling Film with Creativity

591 views
banner 160x600
banner 468x60

569cd14f87ea4_569cd14f8862d

SELLING FILM WITH CREATIVITY

Oleh : Wahyu Puspandrio

Memproduksi FILM tidak sekedar berorientasi tersedianya dana. Banyak pebisnis yang ingin menggelontorkan dana untuk explor di jalur tak pasti mendatangkan profit ini. Hanya terstimulasi berbagai unsur yang terdapat dalam media ini bahwa media film adalah media strategis penyampai informasi dan tepat sebagai penyampai keinginan tertentu pembuatnya.
Sesuatu yang tak pasti bisa jadi ada kepastian di dalamnya. Sebagaimana pendapat yang sudah menjadi pegangan setiap mereka yang optimis bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin (nothing is impossible) - semuanya bisa menjadi mungkin (anything is possible). Demikian juga di dunia marketing, tidak ada yang tidak bisa dijual berorientasi meraih untung yang pantas bahkan lebih.
Film adalah kebutuhan hidup yang kesekian dari kebutuhan yang tergelar pasti dan harus dipenuhi. Dalam daftar pemenuhan belanja setiap keluarga tak jarang mereka mencoret atau menghapus dari agenda belanja bulanan mereka. Fonemena di atas terjadi sangat riil alias nyata. Pelajar, mahasiswa ataupun mereka yang belum berkeluarga dan sudah bekerja yang orientasi tak jauh dari uang mereka habis oleh pulsa? Pupuslah sudah rencana mereka pingin nonton film. Disinilah perlunya pensiasatan strategi pemasaran dengan melihat kenyataan yang terjadi.
Film tak lebih barang dagangan siapapun pembuatnya, katagori genre apapun film itu dibuat pasti mengarahkan hasil produksinya kearah segmen tertentu demi meraup “untung” dan pasti ada pangsa pasarnya. Jangan cepat tersinggung kalau produksi film dalam ranah brand market-nya tak lebih produksi kebutuhan rumah tangga. Konon produksi beraspun ada klasifikasinya: rojolele, cianjur, pandanwangi, cempo dan lainnya. Semua produk diatas kita telah mengetahui segmented pasar yang dibidiknya yang memerlukan keahlian tersendiri dalam mengetrapkan strategi dalam marketingnya. Dari produk-produk diatas trasi-pun tak mau ketinggalan dalam meningkatkan nilai penjualan socio clas-nya. Bumbu penyedap tradisional itu sudah merambah keswalayan dikemas dalam bentuk menarik dengan bau yang tidak menebar kemana-mana. Itulah ranah marketing yang harus dicari solusinya dari kebutuhan mempelajari selera menonton film, agar produksi film laku dipasaran.

Konsep dan Ide Kreatif
Konsep matang yang dibangun dari ide kreatif merupakan bekal penting sebelum produksi film dimulai. Dalam tulisan ini (penulis) sengaja tidak menyinggung tahapan pra produksi (langsung loncat ke marketing dalam fase produksi dan pasca produksi). Penyusunan tahapan strategi pemasaran yang akan diterapkan sangat perlu dicanangkan. Tak jarang konsep marketing sebuah film diperlukan waktu tersendiri untuk menggodoknya. Dibutuhkan diskusi panjang dan brainstorming mengingat kekuatan konsep akan menjadi penentu sukses dan tidaknya sebuah film pada saat dan dilepas dipasar.
Nilai-nilai obyektifitas dalam mengaktualisasikan semua aspek film yang akan dilepas dipasaran harus terungkap dalam diskusi dalam pra produksi. Selain itu target dan sasaran harus jelas pula- strategi fase dalam konteks ini bisa diterapkan dalam pemasaran sebuah film.

Strategi Fase
Strategi fase dapat digunakan sebagai tahapan penyebaran informasi melalui media cetak dan elektronik. Bisa dalam bentuk talkshow, wawancara, sedapatnya menghadirkan sutradara, penulis skenario juga produser – tentu saja pemeran artis dalam lakon film yang tengah diproduksi tersebut. Dalam radio, bisa dihadirkan dalam bentuk obrolan santai mengungkap tema dan cerita film. Bisa diudarakan sequen menarik dari dialog dan ilustrasi musik (soundtrack) disela-sela obrolan, disertai pemasangan spanduk, bilboard, pamflet, dititik-titik strategis ditempat dimana film itu akan diputar.
Banyak sekali hal didapat dari strategi fase ini. Pertama membentuk image masyarakat tentang kelebihan dari film yang sedang diproduksi. Kedua merangsang penonton mempersiapkan diri untuk menonton. Fase di atas diharapkan akan tercipta buzz yang lebih besar. Mengingat film merupakan rangkaian gambar bergerak (motion picture) sangat memerlukan media televisi dalam promosinya.
Scene-scene menarik dalam film dihadirkan dalam trailer visualisasi ini menarik untuk ditampilkan secara terus menerus hingga mendekati rilis film. Mengaktifkan interaksi interview-interview untuk media cetak ibu kota dan daerah juga stasiun radio dibawah Tim publikasi, bahkan pada saat film masih diputar dibioskop dalam interview dan obrolan itu bisa diungkapkan tentang gagasan film, visi dan misi film, master plan, target penonton, psikografis berikut biaya operasional. Meski biaya operasional kadang tidak penting dikemukakan namun hal-hal tertentu dapat menciptakan image tersendiri pada diri calon penonton.
Kendatipun biaya besar tak menjamin film itu sukses dipasaran, calon penonton akan mereka-reka sendiri kenapa sebuah film ini mesti berbiaya sangat besar? Atau sebaliknya berbiaya kecil. Keduanya menciptakan daya rangsang tersendiri bagi penonton untuk melangkahkan kaki ke bioskop. Suasana menunggu rilis film hendaknya dimanfaatkan secara optimal, menyadari menciptakan keinginan menonton masyarakat bukan perkara mudah, social media network (jejaring sosial) seperti facebook, twitter, friendster, forum-forum, personal blog sampai terbentuk word of mouth (WOM). Caranya dengan membalas pesan singkat kepada calon penonton yang terjaring dalam database. Media ini paling cepat dalam membangun brand film market promosi film dan produk lain. Hanya bedanya di film harus memperkuat awareness publik terhadap sosok/tokoh cerita dalam film tersebut dengan membuat akun terhadap tokoh yang bersangkutan bertujuan agar penonton bisa merasakan real user experience peran tokoh dan karakter di ranah online. Yang pada akhirnya menciptakan (WOM) tersendiri dengan harapan buzzing tercipta (film anda terus diperbincangkan) khalayak. Intinya adalah mengundang mereka ke bioskop.
Dalam fase promosi kata puas harus dihindari. Banyak film promosinya bagus, tapi content-nya tidak selaras dengan image yang tercipta sebab apabila penonton terlanjur kecewa, tidak akan terjadi re-purchase bahkan mereka bisa menularkan virus ketidakpuasan ini pada orang lain.

Pasca Produksi
Tidak kalah pentingnya dengan fase-fase sebelumnya.
Pasca produksi juga merupakan fase promosi tertentu yang sangat perlu diperhatikan dalam pengetrapannya. Berusaha mendapatkan informasi pemutaran film-film box office di Studio XXI dan studio papan atas lainnya demi menghindari pemutaran secara bersamaan dengan film-film Hollywood itu.
Mencari waktu rilis film bertepatan libur panjang sekolah, salah satu dari strategi yang perlu diperhitungkan.
Launching film atau sekedar snack preview di sertai press conference, cendramata-cendramata unik sosok aktris/aktornya dan buku-buku film perlu dibuat. Talkshow di radio dan televisi nasional dan lokal harus ditindaklanjuti dengan menghadirkan figur dari dunia hiburan (pendidikan) serta infotainment. Roadshow bersama aktris/aktor pendukung film.
Seringnya film jeblok di pasaran, minat penonton yang tidak dibangun secara intens. Promosinya sangat sederhana produsen enggan merogoh kantong untuk promosi. Tidak menimbulkan gaung sama sekali tidak lebih hanya perbincangan bahwa si A akan bikin film - padahal budget promosi semestinya berada pada posisi kedua setelah biaya produksi. Hal lain terutama sutradara dan produser baru (berdasarkan pengamatan) mereka ingin cepat-cepat produksi tanpa persiapan dengan konsep matang – bertendensi hanya ingin cepat dikenal di dunia perfilman. Lebih jelek lagi sutradara dengan ambisinya tidak memperhitungkan lagi hubungan jangka panjang yang harus terus dipererat agar hubungan dengan produser tersebut tetap terjaga dengan baik. Dalam artian sutradara tidak mempertimbangkan film yang akan diproduksi laku dipasaran – yang penting dapat kesempatan menyutradarai dan film harus cepat digarap kalau tidak entar dicaplok sutradara lain. Persiapanpun jadi ala kadarnya. Padahal film akan menghasilkan karya yang baik dan diterima masyarakat penonton perlu persiapan matang dan tidak terburu-buru. Itulah sebabnya sering kita lihat dan dengar sutradara atau seorang Pimpro (Pimpinan Produksi) hanya sekali mendapatkan kesempatan
berproduksi. Demikian pula seorang Pimpro setelahnya mereka tidak terpakai lagi lantaran semua PH telah mengetahui kinerjanya yang buruk. Dunia perfilman adalah dunia lingkup kecil – ketika seorang crew atau pemain melakukan kesalahan akan cepat tersebar. Demikian sebaliknya, seorang crew atau pemain akan dipakai terus karena SDM dan kinerjanya yang bagus.

Peta Perfilman
Seharusnya sub judul “Peta Perfilman” ditulis paling atas sebelum fase strategi dan pasca produksi. Tapi tak apalah karena membaca peta perfilman nasional dalam rencana produksi film adalah kerangka tersendiri yang harus diketahui oleh produser, sutradara dan penulis skenario sebelum produksi dimulai.
Sedikit mengetahui Peta Perfilman Nasional sangat diperlukan untuk memperkuat konsep agar sebuah produksi film tepat sasaran – bukan seperti sapi tanpa tali, tanpa kendali, melabrak kemana-mana, tidak efektif dalam membangun minat penonton. Apalagi pencapaian penonton ditingkat 300.000 penonton kini sangat sulit. Penyebabnya produksi dengan tema seragam yang terjadi belakangan ini.
Film adalah karya budaya, memanfaatkan pluralitas bangsa ini dengan seabreg kekayaan tradisi dan budayanya perlu diangkat ke permukaan. Sudah tentu harus dihindari produksi film yang ikut-ikutan ngetren, mengekor lantaran satu film booming. Dimana biasanya di kisaran tema-tema film yang disukai penonton kita yang kebanyakan remaja adalah horor (hantu-hantuan). Produser dengan mengadalkan kepekaannya berdagang membidik pangsa pasar yang terus siap menyerbu gedung bioskop dengan berbagai alasan mereka menontonnya. Yang berkisar antara pertumbuhan usia remaja yang suka dengan sisi-sisi unsur kengerian dan horor. Hal biasanya mereka mudah menularkan informasi kepada teman-temannya tentang satu film yang dipandangnya mengesankan di dunianya (dunia hantu-hantuan). Lantaran film horor itu bikin sereeem yang menurut bahasa mereka nyeremin. Dan mulai diproduksi lagi film yang pernah meleduk yang berjudul sama yaitu Jaelangkung, diikuti Zombi yang masih dalam produksi.
Lalu apa yang salah? Tentu saja tidak ada yang salah kalau seandainya tujuan memproduksi film itu tidak hanya untuk berdagang. Sebab film horor tidak memerlukan tuntutan sinematografi yang dibutuhkan produksi sebuah film. Cukup membuat penonton takut. Kalau bisa terkencing-kencing ketakutan. Apalagi memperhitungkan unsur artistik, sama sekali jauh dari pemikiran. Hal ini tidak memberi pembelajaran kepada penonton. Dan yang didapat setelah keluar dari gedung bioskop hanya mendapatkan kesan rasa takut informasi yang diharap bisa mendatangkan kesan dan mengesankan secara seni dan nilai edukasi, tidak ada sama sekali.
Masih ingat film Anak Seribu Pulau? Denias, Ijinkan Aku Menciummu Sekali Lagi, Petualangan Sherina, dan Laskar Pelangi - film itu mengesankan secara kultur, membuka cakrawala berpikir kita dengan background dari mana anak-anak itu berasal, bahasa, raut wajah yang khas mereka tumbuh sehat berkembang di dunianya dengan budaya serta tradisi yang melingkupinya. Itu sebetulnya wajah kita. Kekayaan yang harus diagungkan mestinya.
Salah besar, manakala pendapat yang meributkan bahkan menyalahkan selera penonton kita - yang salah itu justru para sineas kita sendiri. Suka latah memproduksi film hanya lantaran salah satu produksi film kita menjadi box office lantas yang lain mengikuti dengan memproduksi tema yang sama alias mengekor berame-rame. Maka imbas yang terjadi dari produksi film latah itu kiprahnya tak lebih dari hitungan jari sebelah, meleleh, rontok dengan sendirinya. Penonton kita cerdas kawan, mereka emoh dicekoki film-film bertema seragam dan merendahkan martabat mereka. Diam-diam mereka turut prihatin terhadap sineasnya yang kering ide dan gagasan menciptakan tema baru hingga film-filmnya monumental menjadi buah bibir mencerdaskan bangsa.
Namun demikian tetaplah berproduksi dengan bobot tema dan visualisasi sinematografi yang berkembang maju demi mengangkat citra sineas. Selamat berproduksi, semuanya akan dicatat semuanya mendapat tempat. Salam kreatif **

  1. (Penulis adalah praktisi film, penulis skenario,anggoa KFT)

Notes: isi berita dan ulasan diluar tanggng jawab redaksi.

Email Autoresponder indonesia
author