banner 468x60

“ REVIEW FILM : “ POSESIF “

1039 views
banner 160x600
banner 468x60

poster-posesif

Jakarta : 27/10/2017. Review Film : " Posesif "

Sifat Posesif yang di miliki oleh Sosok Yudhis ( Adipati Dolken ) akibat dari perlakuan orang tuanya yang kemudian menurun ke dalam dirinya sifat posesif ini yang sangat dibenci Lala (Putri Marino).

Judul Posesif
Genre Romance suspense
Produksi Palari Films.
Produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia
Sutradara Edwin
Penulis Skenario Gina S. Noer
DOP  
Pemeran Utama Pria  Adipati Dolken
Pemeran Utama Wanita Putri Milano

 

Oleh : Anggreni Kuwardani

Film remaja biasanya berkutat pada kisah seorang cowok yang mengejar cinta cewek idamannya. Endingnya pasti happly ever after (bahagia selamanya). Film-film remaja mainstream seperti ini umumnya terpatri kuat dalam ingatan penonton dan menjadi legenda sepanjang masa.

Posesif berkisah tentang Yudhis (Adipati Dolken) dan Lala (Putri Marino) yang bertemu di tahun akhir SMA. Yudhis adalah siswa baru pindahan dari sekolah lain. Film ini tidak berkisah panjang lebar tentang bagaimana akhirnya keduanya saling menyukai.

Lala pun memiliki sahabat dekat yakni Gino (Chicco Kurniawan) dan Ega (Gritie Agatha).

Lala adalah seorang atlet loncat indah yang pernah menyumbangkan medali perunggu dalam ajang olah raga PON. Kehidupannya sebagai seorang atlet sekaligus pelajar menjadikannya nyaris tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri. Karenanya hanya bersama dengan Gino dan Ega lah teman semasa kecilnya yang sudah dia anggap sahabat untuk menjadi tempat memberikan keluh kesah nya.

Ayah Lala (Yayu Unru) adalah juga sekaligus pelatih Lala di kolam renang sangat ketat dalam menjaga disiplin untuk Lala, tidak hanya di arena loncat indah tapi juga hingga di rumah. Ayah Lala sangat obyektif dalam menilai seorang atlit, tidaklah aneh jika Lala, sekalipun anak kandungnya, kerap kali dimarahi jika tidak memenuhi ekspektasinya di arena kolam renang.

Saat itu Yudhis hadir dan mengisi kekosongan akan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkan oleh Lala. Sosok Yudhis seolah menggenapkan kebahagiaan bagi Lala, Ega dan Gino pun sangat mendukung hubungan Lala dengan Yudhis. semua seakan telah sempurna bagi Lala.

Kehadiran Yudhis sebagai cinta pertama Lala ternyata tidak seindah yang Lala bayangkan. Yudhis perlahan mulai menguasai dan mengatur kehidupan Lala. Perhatian dan rasa ingin memiliki Yudhis terhadap Lala yang sangat berlebihan mulai terasa mengganggu bagi Lala. Hal ini juga mulai dirasakan oleh Ega dan Gino yang melihat perubahan dalam diri Lala. Lala menjadi semakin tidak punya waktu untuk mereka.Yudhis juga telah berhasil membuat Lala mundur dari tim atlet yang akan berlaga di kejuaraan mendatang.

Akhirnya Lala menyadari ada yang salah pada hubungannya dengan Yudhis. Yudhis bahkan mulai melakukan kekerasan fisik terhadapnya, kemudian Yudhis datang menghiba dan menangis untuk memohon maaf dari Lala, berkali-kali seperti itu membuat hubungan keduanya pun selalu naik dan turun. Hingga akhirnya Lala mengetahui penyebab mengapa Yudhis dapat “mendadak berubah menjadi sosok yang sangat kejam” namun seolah di luar kesadarannya tersebut, Lala berbalik menjadi kasihan kepada Yudhis dan ingin menolongnya. Sayangnya terlalu banyak hal yang menghalangi hubungan mereka, termasuk orang tua dan juga diri mereka masing-masing. Ternyata Yudhis adalah seorang anak tunggal yang memiliki sesosok ibu yang jauh dari perkiraan, dimana kebanyakan jika memiliki anak tunggal tentu akan lebih dalam memberikan kasih sayang namun kenyataannya "tidak". Ibu Yudhis memiliki kepribadian yang terlalu berlebihan disebut juga ringan tangan ,jika Yudhis tidak memenuhi permintaan ibunya tersebut. Tokoh yang memerankan ibu Yudhis (Cut Mini) dimana biasanya ia memerankan ibu yang sayang sama anaknya, kali ini dia memerankan sesosok ibu yang sayang pada anaknya namun kejam dengan perlakuan kekerasan terhadap anaknya yaitu Yudhis. Dari sini kita jadi mengetahui alasan mengapa Yudhis memiliki sifat posesif yang sangat dibenci Lala , Ya karena akibat dari perlakuan orangtuanya yang kemudian menurun ke anaknya dan ini sudah masuk ke psikis Yudhis. Berbeda dengan ayah Lala , walaupun dia orang yang tegas saat bersama Lala namun ayah Lala tidak pernah memberikan kekerasan terhadap Lala. Dari sini kita belajar bahwa pengaruh orangtua dalam mendidik anak sangatlah bergantung erat karena akan menciptakan suatu sifat-sifat anak tersebut.

Film ini sangat rekomendasi sekali bagi anak-anak remaja tentunya dan orangtua karena ada pesan-pesan yang sangat mengena sekali antara kedekatan orangtua dan juga anaknya sehingga tidak menimbulkan suatu sikap yang dapat mengganggu diri anak sendiri baik nanti dikehidupan anaknya kelak jika sampai mengalami traumatik yang dialami Yudhis ini. Sebagai orang tua hendaknya mendukung setiap bakat dan yang diinginkan anaknya. Di era modern ini karena banyak anak sudah terpengaruh oleh teman dan lingkungan nya. Jangan sampai menjadikan anaknya terjerat ke pergaulan bebas. Film ini akan Rilis tanggal 26 Oktober, di bioskop seluruh Indonesia.

 

Notes : (Penulis : Anggreni Kuwardani), E-mail : azzam bayhaqi" <azzambayhaqi@gmail.com>

 

Email Autoresponder indonesia
author