banner 468x60

Meratapi dosa sineas kita.

567 views
banner 160x600
banner 468x60

Tiga Dara (1956)-1

Meratapi Dosa Sineas Kita
Oleh: Wahyu Puspandrio

Peta perfilman nasional masih terus meraba-raba jalan. Seperti sapi tanpa tali melabrak kemana-mana. Kondisi ini terus mewarnai perjalanannya hingga kini. Sineas kita hilang arah.

Kondisi politik suatu negera dapat mempengaruhi pertumbuhan seluruh kehidupan masyarakatnya. Tidak terkecuali pertumbuhan produksi filmnya. Indonesia secara politis negera tergolong aman, keadaan ekonominya cukup menunjang tentu saja berpeluang besar mengembangkan bidang satu ini.
Secara grafik produksi film kita naik perlahan, cukup menunjukkan geliatnya setelah era reformasi. Walaupun tidak sejaya masa sebelum reformasi.
Menengok ke belakang sejarah jatuh bangunnya perjalanan perfilman kita tidak ada salahnya. Dimana sebelum era reformasi yang diawali krisis moneter, praktis produksi film nasional tahun 1999 mengulang kembali hanya memproduksi 1 (satu) film seperti pada awal dimulainya produksi film nasional tahun 1926. Peningkatan yang cukup seknifikan pada tahun 1977 mendekati angka 124 buah film pernah dicapai. Namun menurun produksinya hingga ke titik nadir pada awal gejolak reformasi yaitu hanya 1 (satu) buah film.
Seiring keadaan politik yang mulai kondusif insan film memulai produksinya kembali dengan judul Ayat-Ayat Cinta (produksi 2007) dan digulirkan peredarannya maret 2008 dan sedang meledak mampu menyerap penonton belum sepekan pemutarannya di berbagai bioskop 21 yang beralih tema dari soal Hantu ke Religi.
Namun sebagaimana kebiasaan buruk sineas kita terlihat sifatnya dengan memproduksi/mengekor film yang sedang booming. Sifat latah ini jelas terlihat di berbagai gedung bioskop melalui poster film nasional satu dengan lainnya dengan tema tak jauh beda.
Di tahun 2016 hingga 2017 dipastikan diwarnai produksi film horror kembali. Terlihat dari maraknya promosi film-film horror yang akan rilis dan sedang diputar di bioskop. Sepintas kalau sedang melintas di depan gedung bioskop (XXI) mata nyalang ke poster-poster yang berjejer lalu tertunduk sedih – dunia remaja dieksploitir, dimanfaatkan keberadaannya untuk dicekoki film-film horror semata.
Lagi-lagi tidak ada yang salah dan dipersalahkan. Sangat faham bahwa memproduksi film tidak mudah manakala mengangkat cerita berlatarkan sejarah dan budaya yang tak jarang memakan biaya besar dan belum tentu mendatangkan banyak penonton. Namun perlu diingat bahwa selera penonton bisa dibentuk dengan terus menerus memproduksi film yang mengusung muatan tema unsur edukasi sampai atmosfer tercipta yaitu kembalinya penonton memenuhi gedung bioskop, disebabkan film Nasional sudah memenuhi harapan di semua tingkatan masyarakat kita.
Didasari keinginan untuk berbeda mencipta tema baru dan membidik pangsa pasar remaja yang ketika menonton menggandeng pacar dan teman lainnya, dibayang-bayangi ketakutan tidak mendapatkan respon penonton, akhirnya masabodo dengan kreatifitas sineas sendiri – dimana misi mencerdaskan bangsa terabaikan.
Yang memprihatinkan semua produksi itu diarahkan terhadap konsumen yang kebanyakan remaja, generasi yang kita harapkan dapat memimpin bangsa ini ke depan, dicekoki cerita dunia mereka yang nyaris tak memberi pesan yang menggugah. Padahal pesona daya tarik media film sangat luar biasa strategisnya: Membangkitkan rasa nasionalisme yang kini tercerai berai – bahkan sebagai media hiburan dan pendidikan yang tak tergantikan media lain dalam perannya.

Asal-Usul Sineas
Ternyata seorang sineas tidak menjamin darimana ia mendapatkan ilmu membuat film. Apakah mereka memperolehnya dari pendidikan formal atau non formal. Kedalaman mencipta, kekayaan wawasan kesenian yang di dalamnya melingkupi hajat hidup manusia diperoleh tidak hanya dari bangku sekolah. Tapi dari kehidupan nyata. Pengalaman, penghayatan perjalanan hidup. Menyerap segala peristiwa. Tragedi yang menimpa manusia dengan mengemukakan kebenaran. Mengangkat unsur budaya yang heterogen ini adalah sisi yang mestinya menggetarkan kepekaan kesenianya untuk mengangkatnya menjadi kekayaan materi dunia film nasional.
Antusiasme penonton terhadap film nasionalnya sangat besar. Dengan catatan mengetahui dari mana membidiknya agar mereka mau melangkahkan kakinya ke gedung bioskop. Tentu saja bukan menyuguhinya dengan tema-tema film yang hanya membuat mereka eksaiting diseputar horror dan ngeri dan nyeremin menurut bahasa mereka. Hal ini harus disikapi perilaku positif sineas sendiri. Harus ada tanggung jawab moral bahwa film adalah tempat menimba ilmu yang mudah ditangkap semua unsur indra manusia. Dari sini rasa tanggung jawab berkesenian sineas Indonesia mestinya hadir.
Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) tak pelak lagi harus ditingkatkan. Upaya pemerintah untuk terus menggalakkan perbaikan mutu perfilman melalui Pusbangfilm adalah langkah yang harus didukung – sebab tanpa langkah-langkah kongkrit dari pemerintah semua upaya peningkatan film nasional akan stug (jalan di tempat). Mengingat regulasi-regulasi di bidang perfilman berada di tangan pemerintah untuk merealisasikannya yang akan diikuti para pekerja film untuk berkreasi lebih galak lagi.
Bahkan pemerintah bisa berupaya mendanai beberapa judul film untuk diproduksi guna mengawali langkah niat yang benar-benar serius film bertemakan sejarah, dunia anak-anak, remaja dan kebutuhan hiburan yang mendidik yang masyarakat terus berharap agar Film Indonesia hadir kembali di tengah-tengah kehidupan mereka.
Pengartian peran dan tanggung jawab sineas ke depan harus lebih luas lagi. Tidak sebatas seorang yang mengetahui dunia sinematografi dan tehnik membuat film – tapi hendaknya lebih melebar; dia seorang penggagas, menciptakan terobosan baru di luar segmen XXI. Mampu memberi pencerahan bagi kemandekan berfikir dan berkreasi tentang fungsi film untuk kepentingan bangsa yang lebih luas. Ia juga seorang presentator, konseptor yang faham ihwal sinematografi dengan segala unsur penciptaan yang mendukung produksi sebuah film dan kemudian untuk kepentingan pemasarannya.

Generasi telat mikir?
Sutradara-sutradara muda berbakat bermunculan. Bahkan produser muda telah menunjukkan eksistensinya mampu mencipta film-film yang patut diperhitungkan baik mutu dan tehnik penggarapan dengan tema berbeda, tidak turut larut dalam tema-tema yang sedang ngetren yang bertujuan menggaruk untung dengan tema-tema yang tidak mendidik. Keberadaan mereka mudah-mudahan tetap lestari dengan menjaga kontunyuitas produksi tema-tema baru, menghindari keseragaman tema didasari bahwa film mempunyai manfaat yang lebih dari sekadar mengejar untung, mengabaikan kepentingan masyarakat yang mendamba film nasional bangkit dari keterpurukan orientasi dari segala sisi.
Belajar dari para sineas yang meninggalkan karya “baik-buruknya,” perlu dijadikan pelajaran. Sejarah telah mencatat generasi terdahulu dalam berbagai bidang profesi perjuangannya murni untuk kepentingan Negara dan bangsanya. Bagi perilaku sineas baru kita yang mudah terpengaruh kehidupan instan hendaklah mencontoh para sineas terdahulu dengan karya-karya film mereka yang mengangkat masalah kemanusiaan yang monumental dengan mengangkat kisah heroik perjuangan bangsa dalam menegakkan republik ini – membubuhinya dengan kisah love story yang tak kalah menarik bila dibandingkan kisah cinta remaja dan hantu yang memperlihatkan matinya kreativitas sineas.
Hollywood tidak henti-hentinya merekonstruksi kembali kisah lama namun kaya nuansa falsafi dan keindahan sinematografi berikut kisah cinta yang membarengi perjuangan mereka. Demi menghapus kesan bahwa generasi sineas kini melupakan riwayat sejarah. ***

*Penulis adalah praktisi penulis skenario film.

Anggota KFT(Karyawan Film dan Televisi Indonesia)

E-mail: rumahmiringwahyu@gmail.com

Email Autoresponder indonesia
author