banner 468x60

Sumber Jeding Tak Pernah Kering

643 views
banner 160x600
banner 468x60

Sumber jeding BANYUWANGI - Diantara dua pohon beringin besar itu terdapat sumber mata air. Menurut keyakinan masyarakat Dusun Pekulo Desa Kepundungan Kecamatan Srono, sumber ini ada sejak kejayaan Majapahit.

Tempat ini masyarakat menyebutnya 'Sumber Jeding' karena di bawah aliran sumber terdapat 2 'belik' (kolam air). Tentu saja keberadaan sumber ini sangat bermanfaat bagi para petani, sumber yang mengalir itu mampu mengaliri sawah seluas 50 hektoare.

Tak ayal jika petani yang memiliki sawah di sekitar aliran sumber tidak pernah mengeluh, sekalipun musim panas dan kekeringan melanda Bumi Blambangan.

Konon, menurut masyarakat, dahulu Sumber Jeding sebelum ramai adanya perkampungan kondisinya hutan belantara, hutan ini sempat menjadi tempat sesinggahan Raden Damar Wulan, ketika melakukan perjalanan. Saat beristirahat Damar Wulan menalikan kudanya ke dua pohon besar itu.

Akibat perjalanan jauh ia kehausan dan mencari air minum di sekitar hutan. Setelah lama mencari, seteguk airpun tidak ditemukan, lantas, gagang cemeti yang dipegangnya ia tancapkan ke tanah tepat di antara kedua pohon beringin itu.

Dengan izin Tuhan, sumber mata air dari cemetinya mengalir sangat deras. Melihat fenomena itu Damar Wulan, langsung meminum air ajaib tersebut.

Dari legenda itu ada, hingga sekarang warga menggunakan sumber air ini untuk kebutuhan hidup sehari - hari.

"Air ini bisa langsung kita minum sekalipun tidak dimasak. Airnya sangat jernih dan menyehatkan," kata Beni (45) warga setempat.

Sumber lain menceritakan, Sumber Jeding merupakan salah satu tempat pemandian Putri Sritanjung pada sejarah berdirinya Banyuwangi. Sumber Jeding juga berkaitan dengan adanya kerajaan Kedawung.

“Menurut keyakinan masyarakat sejarahnya seperti itu,” kata Suminto mantan Kepala Desa Kepundungan.

Sementara itu mitos keberadaan sumber ini dipercayai, jika warga hendak hajatan tidak melakukan 'kenduri' (selamatan) di Sumber Jeding, maka mala petaka akan menimpa.

Tak heran jika setiap warga menyelenggarakan hajatan melakukan prosesi selamatan terlebih dahulu di sumber keramat ini.

“Dulu ada warga yang tidak selamatan. Orang tuanya meninggal, dan mempelainya matanya juling,” papar Suminto.

Rata - rata saat melakukan kenduri kata Suminto, warga membawa wadah untuk mengambil air di mata air tersebut, untuk syarat memasak makanan keperluan hajatan.

Jika tidak, jangan harap masakan yang dimasak bisa dimakan lantaran tidak bisa matang. “Itu keyakinan masyarakat dari dulu. Pernah ada kejadian karena yang punya hajat tidak percaya,” terangnya. (yud)

Email Autoresponder indonesia
author