banner 468x60

FILM ROMAN PICISAN BIKIN REMAJA MILENIAL JADI BAPER.

402 views
banner 160x600
banner 468x60

 

IMG_20180816_163116

FILM ROMAN PICISAN,BIKIN REMAJA MILENIAL JADI BAPER#

Lho ngak kangen sama Wulan?

Rindu itu sunyi tak perlu ada bunyi..

Cinta tanpa tindakan, hanyalah sebuah roman picisan.

Roman Picisan karya novel Deddy D. Iskandar difilmkan pada tahun 1980, dibikin sinetron, serial drama televisi dan kembali diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama “Roman Picisan” (Rompis) menjadi daya tarik bagi remaja lintas generasi. Nuansa cerita cinta sama saja, yang membedakan rentang waktu dengan bumbu kekinian, tetap menjadi daya tarik bagi remaja, apalagi film ini sudah memiliki komunitas, penggemar setianya Roman Picisan Lovers (RPL).

‘Roman Picisan’ mengisahkan tentang Roman (Arbani Yasiz) anak medan yang sekolah di Jakarta jago membuat puisi. Teman-temannya kerap memanggilnya Rompis lantaran hobi membuat puisi gombal. Roman juga jago soal menaklukkan hati wanita karena tampangnya yang keren dan kebaikan hatinya. Wulandari (Adinda Azani)sebagai anak baru yang pindah sekolahan pun jatuh cinta, mereka berdua merajut kisah cinta yang lovey dovey banget hingga tamat SMA.

Perusahaan produksi MNC Pictures mempercayakan penulisan skenario oleh Haqi Achmad, Monty Tiwa dan Putri Hermansjah berdasarkan karakter yang dibikin Deddy D. Iskandar. ‘Rompis’ The Movie berkisah tentang Roman dan Wulan setelah tamat SMA melanjutkan kuliah di negeri Kincir Angin, mereka menjalani hubungan jarak jauh.

Menjalin hubungan jarak jauh, LDR (Long distance relationship) yang pada mulanya baik-baik saja, mulai terganggu, ketika adanya kehadiran orang ketiga, sahabat Roman selama kuliah di Belanda, Meira (Cut Bebi Tshabina) yang membantu Roman saat kacau mendapat nilai jelek oleh dosennya, ia salah masuk toilet wanita. Roman dipukuli hingga babak belur, ““Lo! jadi lelaki jangan lembek, gitu. Makanya kita dijajah sama Belanda”.  

Sedangkan Umay Shahab yang berperan sebagai Sam, sahabat Roman dari SMA yang juga bareng kuliah di Belanda pun mencoba menengahi konflik cinta asmara Roman dan Wulandari dengan dialog yang segar, kadang bikin tersipu malu, penuh keharuan. Celetukan Sam yang spontan ala remaja kekinian bikin tertawa, sering memberi nasehat tidak solutif namun bisa menyairkan suasana, malahan jadi bikin baper. 

Sutradara Monty Tiwa dan penulis naskah Haqi Achmad tidak saja membangun cerita buat anak- anak Milenial tetapi menyajikan gambar nuansa yang dilatari keindahan kota Amsterdam, sembari menikmati bertebaran kata-kata puitis. “Aku hanya pendatang, seperti angin yang mencari dedauan, agar mereka dapat terbang, seperti hatiku, setiap kali kau datang.” (EQ) ***

Email Autoresponder indonesia
author