banner 468x60

Film ARUNA & LIDAHNYA, Mak Nyus !

251 views
banner 160x600
banner 468x60

 

 

foto: istimewa

foto:istimewa

 

Film ARUNA & LIDAHYA... Mak Nyuss!

Wisata kuliner di berbagai daerah yang diperkenalkan oleh Bondan Winarno bisa kalian nikmati di film ARUNA & LIDAHYA. Soalnya hampir 70% durasi film itu ngomongin menu makanan, khas dari bermacam daerah. Diantaranya; Rawon (Surabaya) dan Nasi Goreng, Campur Lorjuk (Pamekasan), Pengkang (Pontianak), dan Choi Pan (Singkawang).

Adegan pertama aja, Aruna sedang mengolah sop yang segar, ia bertestimoni sambil menikmati masakannya, 

“Makanan itu mempunyai kekuatan yang sama seperti alam semesta, dia menghubungi kita ke berbagai macam orang, dia juga melahirkan banyak kemungkinan baru..” katanya dengan ekspresif menatap kamera, ke arah pononton.

Penonton seolah diajak berdialog langsung dengan Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo (Ada Apa Dengan Cinta 1 & 2) untuk mengikuti alur cerita kisah perjalanan hidupnya, cinta, konflik pribadi dengan atasan maupun rekan kerjanya Farish (Oka Antara) yang pernah ditaksirnya.

Cinta terpendam itu terbawa saat menunaikan tugas mengungkap kasus wabah flu burung dalam perjalanannya ke empat kota. “Hati-hati jangan terlalu antipati, entar simpati, terus empati, terus jatuh hati,” ledek Bono (Nicholas Saputra), teman akrab Aruna yang berprofesi sebagai chief.

Persahabatan Aruna dan Bono begitu dekat, akting keduanya pun terasa cair mengalir. Bersaling suapan makanan, usapan tangan Bono ke punggung Aruna, ketika menghibur diri Aruna ketika kesal dengan sikap Faris. Nicholas Saputra (Rangga, GIE) yang biasanya angkuh dan cool, di peran Bono sangat berbeda, konyol dan jahil. 

Tokoh Nad (Hannah Al Rashid) yang sudah berteman dengan Bono lebih dulu, menjadi akrab dengan Aruna. Obrolan mereka pun, ketika berada di ruangan, hanya mereka berdua, tidak hanya membahas tentang kuliner, tetapi berbagi pembalut wanita dan menyoal hubungan yang sangat sensitif di masyarakat, seperti perselingkuhan, hubungan sex dengan suami yang sudah beristri.

Obrolan yang mungkin tabu didengar di tempat umum, hal ini menjadi lumrah kalau dibahas di tempat yang privasi. Melalui film  ARUNA & LIDAHYA mencoba merekam peristiwa yang terjadi tengah masayarakat, karena banyak masalah hubungan pertemanan, kesalahpahaman persahabat bisa diobrolin dan dipecahkan dalam satu meja dengan makan bersama-sama. 

Di meja makan segala macam persoalan kehidupan yang berat sampai yang remeh temeh, bisa diomongin dengan santai, saling memahami selera orang lain, saling mengerti adanya perbedaan. “Hidup itu, kayak makanan, di dalam satu piring ini, elo bisa ngerasain sepahit-pahitnya, sampai yang seasin-asinnya. Kalo elo makannya sendiri-sendiri.”

Film ARUNA & LIDAHYA bukan sekedar celotehnya Aruna yang lugu, lucu, haru nan syahdu. Tetapi bisa merasakan kehangatan, persabatan, cinta dan rasa. Rasa dan aroma benar-benar menggoda selera, karena di dalam film garapan Edwin (Posesif, 2017) di produksi Palari Film ini telah berhasil menghidangkan 21 jenis makanan, cemilan dan minuman dalam satu film. Penonton pokoknya dibikin Mak Nyuss. (EQ)

Email Autoresponder indonesia
author