banner 468x60

KCFI Bali, Bentuk Karakter Bangsa melalui media film

banner 160x600
banner 468x60

dockcfi

doc/kcf/2016/17

Denpasar 18/12/2016 : Dalam rangkaian acara Deklarasi dan Nobar Film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, tayangan film ini  mempesona pelajar SMP Nasional Denpasar ,SMK Teknologi Nasional, mahasiswa Universitas Pendidikan Nasional ( Undiknas) Denpasar serta masyarakat komunitas Cinta Film Indonesia Zona Bali,  bertempat di Auditorium PERDIKNAS Denpasar – Bali, film garapan sutradara Angga Dimas Sasongko yang memperoleh piala Citra pada FFI tahun 2015.

 

Lihat : http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-c025-14-112311_cahaya-dari-timur-beta-maluku#.WFcxWn0XWlo

 

Film ini mengisahkan sosok Sani Tawainela, mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia di Piala Pelajar Asia tahun 1996 yang gagal menjadi pemain professional, Ia mengalami guncangan besar saat menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam sebuah kontak senjata di Ambon. Sani yang kembali ke Tulehu, desa kelahirannya yang berjarak 25 kilometer dari kota Ambon dan menyambung hidup sebagai tukang ojek menyaksikan keterlibatan anak-anak dalam konflik agama di Maluku.

Sebagai upaya  untuk mengalihkan perhatian anak-anak atas konflik, Sani mengajak  berlatih sepak bola, adalah Hari Lestaluhu, mantan pemain sepak bola professional yang pulang kampung akibat cidera. Sani mengajak Hari untuk membentuk sebuah sekolah sepak bola sederhana berbekal pengetahuan mereka.

Di tengah situasi yang kacau dan dengan segala keterbatasan ekonomi, Sani bertahan melatih anak-anak selama bertahun-tahun. Di tahun 2006 kondisi Maluku mulai kondusif. Sekolah sepak bola yang dirintis Sani dan Hari masih berjalan. Anak-anak yang mereka latih tumbuh menjadi pemain-pemain sepak bola muda berbakat. Tapi, Sani dan Hari mengalami pecah kongsi, Hari mendaku bahwa sekolah sepak bola itu adalah miliknya dan keluarganya, Sani marah besar dan mengundurkan diri.

Dalam sebuah kompetisi antar kampung Tim Sani berhadapan dengan Tim Hari di babak final. Tim Hari berhasil keluar sebagai juara, namun Sani yang ditunjuk untuk melatih kesebelasan Maluku. Setelah melewati sekelumit persoalan, tim akhirnya bisa diberangkatkan mengikuti kompetisi nasional di Jakarta. Namun, keputusannya membaurkan anak-anak yang berbeda agama dalam satu tim justru menyebabkan perpecahan.

Ada yang menarik dalam film ini nama Rizky Pellu, Hendra Adi Bayao,  Alvin Tuasalamoni,  nama-nama yang tidak asing bagi penggemar sepakbola nasional, film based on true story.

Tahun berganti tahun akhirnya konflik mulai surut, anak-anak pun tumbuh menjadi pemuda tangguh. Raffi mengusulkan agar segeramenbentuk Sekolah Sepak Bola, namun  Sani  sangat bimbang, sebuah dilema mengurusi sepak bola, dimana untuk memberi makan anak istri juga pas-pasan. Namun sebuah peluang mulai ternganga  saat akan dilaksanakan sebuah kejuaraan John Maeloa Cup, turnamen sepakbola di Maluku dan Tulehu menjadi tuan rumahnya. Raffi, kemudian di bentuklah  SSB Tulehu Putra, yang di dukungi oleh Sani. Ternyata Raffi menggunakan ini sebagai alat politiknya yang akan maju sebagai caleg, SSB Tulehu Putra diklaim merupakan miliknya dan hasil inisiasinya. Raffi menggunakannya sebagai pencitraan di media cetak lokal. Hal ini tercium Sani, yang mengakibatkan dua sahabat ini pecah kongsi. Sani marah tapi tak berdaya, dia kalah dengan sahabatnya yang punya uang dan siap membiayai keperluan Tulehu Putra.

Anak-anak akhirnya tau, dan ini sontak menjadi dilema tersendiri. Anak-anak sudah jatuh hati, mereka merasa Sani adalah sosok terbaik bagi mereka. Sani menutupi masalahnya dengan Raffi, dia menjelaskan dia keluar dari Tulehu Putra karna ingin fokus mencari nafkah. Diluar itu, Sani sebenarnya sangat hancur. Perasaan dikhianati sahabat sekaligus harus kembali menjauh dari dunianya, sepakbola.

Perasaan itu berubah tatkala seorang guru dari SMK Passo bernama Yosef datang dan menawarinya melatih Passo untuk mengikuti John Maeloa Cup. SMK Passo sejatinya merupakan SMK Kristen, dan penunjukan Sani yang Muslim sebagai pelatih awalnya sempat ditentang oleh kepala sekolah, namun setelah diberikan pengertian oleh Yosef, kepsek pun melunak. Sani pun girang, dia akan kembali ke dunianya, dan keluarganya pun pasti senang karna SMK Passo menggajinya.

Berita Sani melatih Passo terdengar anak-anak Tulehu, hingga dua anak yakni Salembe dan Alvin keluar dari Tulehu Putra dan memilih bergabung dengan Sani. Hal yang membuat terjadinya keretakan ditubuh Tulehu Putra.

Film ini langsung mengarahkan pada laga final, yang mempertemukan Passo vs Tulehu. Pertandingan antar saudara yang akhirnya dimenangkan oleh Tulehu. Membuat Raffi merasa lebih hebat dari Sani.

Diluar laga final ada sosok Sofyan, orang Tulehu yang ditugaskan PSSI memberikan informasi tentang turnamen PSSI U15 antar provinsi yang berlangsung di Jakarta. Informasi ini langsung ditindaklanjuti dengan pembentukan tim U15 Maluku melalui jalur musyawarah. Akhirnya ditetapkan Sani sebagai pelatih kepala dan Raffi sebagai asisten. Pemilihan ini didasarkan pada kemampuan Sani dalam menyatukan pemain Passo dan Tulehu, pemain Islam dan Kristen. Sontak hal ini membuat Raffi bereaksi, dia menganggap pelatih dari tim juaralah yang berhak jadi pelatih kepala. Raffi bersikap, jadi pelatih kepala atau mundur sama sekali. Akhirnya Raffi mundur, jadilah Sani sebagai Pelatih Kepala dan Yosef sebagai asistennya.

Pemain mulai berlatih, dengan komposisi 2 pemain dari Passo dan sisanya dari Tulehu. Konflik di dalam tim dimulai. Benih keragaman ini kembali pecah. Salembe yang merasa dendam dengan Polisi yang membunuh ayahnya baru tau kalau 2 pemain Passo adalah anak polisi. Tackle keras saat latihan disertai adu mulut dan adu jotos tak terelakkan. Tapi Sani tetap yakin, riak perpecahan ini lambat laun pasti akan berakhir. Anak-anak akan dewasa, disisi lain Sani lebih intens pada masalah lain, tim kekurangan dana.

Keberangkatan tim tinggal menunggu hari, tapi dana yang terkumpul masih kurang. Konflik kembali terjadi. Kekurangan dana mulai tertutupi dengan sumbangan masyarakat yang secara langsung menyerahkannya ke Sani. Sumbangan dari gereja, bahkan sumbangan dari orang tua pemain yang awalnya kurang support dengan anaknya yang tiap hari latihan. Setelah dihitung lagi, dana masih kurang. Sani akhirnya menjual dua ekor kambing tanpa sepengetahuan istrinya. Haspa, istri Sani marah besar dan berniat pulang ke rumah orang tuanya di Ambon beserta anak-anaknya. Sani hanya bisa terdiam. Inilah perjuangan. Pada momen ini emosi Chico Jericho sebagai pemeran Sani sangat luar biasa, penonton bisa merasakan.

Keapikan cerita film ini ketika pada momen  terputusnya siaran langsung dari Station televisi. Dimana masyarakat Maluku menggelar nonton bareng ( nobar) di semua sudut kota. Saat terhentinya siaran ini membuat mereka bingung, siaran berubah menjadi laporan via telpon yang di sebarkan lagi via mimbar masjid dan gereja dengan pengeras suara. Olahraga memang alat pemersatu nasinalisme kita.

Dramatis, hasil akhir untuk pertandingan ini. Diluar dari kemenangan Maluku, ini adalah kemenangan keragaman, sebuah kesatuan tekad dalam semangat rekonsiliasi daerah konflik. Tidak heran film ini banjir penghargaan. Sebagai sebuah film dengan muatan yang kompleks, film ini terlihat komplet. Film yang layak ditonton,oleh masyarakat Indonesia , walau di produksi tahun lalu ,Semoga film ini menjadi sarana memperkuat rasa  nasionalisme dan pembentukan karakter bangsa.

Selama 2 jam pelajar, mahasiswa dan masyarakat Cinta Film Indonesia di Bali, duduk terpaku terbawaalur cerita, mereka  disuguhi berbagai konflik yang mengemuka dengan alur yang pas. Ada konflik besar kerusuhan, konflik rumah tangga, konflik persahabatan,  namun konflik tsb  berujung manis di akhir cerita.sebagian besar dialog menggunakan bahasa lokal Maluku, namun masih mudah dipahami walau tanpa teks sekalipun. Penonton dibawa dalam alur, dan merasakan setiap titik ketegangannya. Film yang nyaris tanpa cela. layak menyandang Film terbaik FFI 2015.

Hadir pula dalam nobar film tersebut Perwakilan Gubernur yang diwakili oleh kepala Bidang Kesenian dan Perfilman Dinas Kebudayaan Prov. Bali I Wayan Sulastriani ST, MSi, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Prov Bali di wakili oleh Kepala Kepemudaan ,   I wayan Suwarna, SE. Msi, Ida Pedande Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa, Ida Pandita Nabe Istri Sri Bhagawan D.W.N.S pemuka agama Bali, local President JCI ( Junior Chamber International ) Bali, Ketua Perdiknas, ketua umum DPD Iwapi Bali, ketua KPRK Bali Karangasem, ketua umum BKOW Bali, komunitas Anak Bangsa, Komunitas Pengayah Gema Perdamaian, Duta-Duta Ajeg Bali, Putra Putri Tuli , Miss Internet Bali, Putera-Puteri Gender , Putera-Puteri Sekolah dan juga hadir pengamat film Indonesia yang tinggal di Bali David Hanan.

Saat di tanya redaksi CFI, David Hannan mengatakan "This Film Amazing !!! " ungkap Mr. David yang sedang menyelesaikan sebuah buku tentang perfilman Indonesia yang di tulis dalam bahasa Inggris.

Kedepan KCFI Zona Bali akan terus turun berperan serta dalam upayapengenbangan perfilman Indonesia dengan mengadakan program kegiatan yang mengutamakan pembentukan karakter bangsa melalui media film, sebagai bukti nyata tersebut kami sudah menyiapkan program kegiatan nonton bareng film Indonesia di kecamatan-kecamatan di Bali dengan pemutaran flm- film tentang kepahlawanan, menurut  Bagus Wahyu selaku Sekjen, Bali adalah tempat yang potensial untuk perkembangan perfilman Indonesia, Bali sering di pergunakan oleh film maker asing sebagai lokasi shooting, ia berharap Bali bisa menjadi Baliwood seperti halnya Hollywood di Amerka  dan Bollywood di India. ( WTK/BS)

filmindonesia.co.id

Email Autoresponder indonesia
author